Refleksi Kultum Bakda Shalat Subuh di Masjid Taqwa Cepu
Kamis pagi, 26 Februari 2026, suasana Masjid Taqwa Cepu dipenuhi jamaah yang menunaikan shalat Subuh berjamaah. Pada kesempatan tersebut, kultum disampaikan oleh , yang mengangkat tema pentingnya menjadikan puasa sebagai sarana melatih pengendalian emosi dan hawa nafsu.
Puasa sebagai Jalan Menuju Ketakwaan
Dalam penyampaiannya, beliau mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur atas nikmat iman, Islam, serta kesempatan bertemu bulan suci Ramadhan. Bulan ini bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi momentum untuk memperbaiki diri dan meningkatkan ketakwaan.
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa, termasuk dalam mengendalikan emosi dan hawa nafsu.
Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar
Beliau juga mengingatkan bahwa puasa adalah perisai bagi seorang mukmin. Rasulullah ﷺ bersabda:
وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ، فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ
“Puasa adalah perisai. Maka apabila salah seorang di antara kalian berpuasa, jangan berkata kotor dan jangan berteriak. Jika ada yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa esensi puasa adalah pengendalian diri, terutama dari amarah dan perkataan buruk.
Menjaga Lisan dan Perbuatan
Salah satu bentuk pengendalian diri adalah menjaga lisan. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya yang hanya meninggalkan makan dan minum.”
(HR. Bukhari)
Ini menunjukkan bahwa kualitas puasa sangat ditentukan oleh kemampuan menjaga ucapan dan perilaku.
Menahan Amarah dan Memaafkan
Dalam kehidupan sehari-hari, berbagai situasi dapat memancing emosi. Namun, seorang yang berpuasa dituntut untuk mampu menahan amarah dan memaafkan.
Allah ﷻ berfirman:
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. Ali ‘Imran: 134)
Menahan marah bukan tanda kelemahan, melainkan bukti kekuatan iman dan kedewasaan spiritual.
Menenangkan Hati dengan Dzikir
Untuk membantu mengendalikan emosi, beliau menganjurkan memperbanyak dzikir dan doa. Hati yang dekat dengan Allah akan lebih mudah tenang dan terjaga dari gejolak amarah.
Allah ﷻ berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Pentingnya Kesabaran
Kesabaran menjadi kunci utama dalam menjalani ibadah puasa. Rasulullah ﷺ bersabda:
وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
“Barang siapa berusaha bersabar, maka Allah akan menjadikannya sabar. Tidak ada pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dengan kesabaran, seorang muslim mampu menjalani Ramadhan dengan penuh keikhlasan dan ketenangan.
Penutup
Kultum ini memberikan pengingat bahwa Ramadhan adalah madrasah untuk membentuk pribadi yang lebih baik. Puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga melatih pengendalian emosi, menjaga lisan, memperbanyak dzikir, serta meningkatkan kesabaran.
Semoga melalui ibadah puasa yang kita jalani, kita mampu menjadi pribadi yang lebih tenang, lebih sabar, dan lebih bertakwa di hadapan Allah ﷻ. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar