TfA6BSOlBUdiTfY7BSW8TSroTA==

Headline:

Adakah Takbir Dalam Khutbah Idul Fitri dan Idul Adha

Sudah menjadi kebiasaan para khatib shalat Idul Fitri maupun Idul Adha menyelipkan lafal takbir seperti dalam formula takbiran. Sebagian justru mengaw

 


Sudah menjadi kebiasaan para khatib shalat Idul Fitri maupun Idul Adha menyelipkan lafal takbir seperti dalam formula takbiran. Sebagian justru mengawalinya dengan takbir berulang-ulang sebelum hamdalah. Sebenarnya, praktik ini tidak ada contohnya dalam Sunnah nabawiyyah.

Memang ada hadis Nabi yang menjelaskan bahwa nabi takbir berulang-ulang dalam khutbahnya. Hadisnya sebagai berikut:

كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم يُكَبِّرُ بَيْنَ أَضْعَافِ الْخُطْبَةِ يُكْثِرُ التَّكْبِيرَ فِى خُطْبَةِ الْعِيدَيْنِ

(Dahulu Nabi ﷺ biasa bertakbir di tengah-tengah khutbah, beliau memperbanyak takbir di dalam khutbah dua ‘ied. (HR Ibnu Majah: 1277). Menurut kritikus hadis kenamaan, Nashiruddin al-Albani dan Abu Thahir Zubair ‘Ali Zai, hadis ini lemah kulaitasnya. Memang, sudah menjadi pengetahuan umum di kalangan para ulama kritikus hadis, manakala Imam Ibnu Majah meriwayatkan suatu hadis, kok sendirian, dipastikan lemah kualitasnya. Ibnu Majah termasuk tasahhul (longgar) dalam menilai kualitas rawi, baik aspek intelektualitas maupun kualitas kepribadiannya.

Dari 14 kitab hadis, yaitu Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan at-Turmuzi, Sunan Abu Dawud, Sunan an-Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, Sunan ad-Darimi, Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, Muwaththa’ Malik, Sunan Daruquthni, Shahih Ibnu Khuzaimah, Sahih Ibnu Hibban, al-Mustadrak al-Hakim, dan Musnad Imam Syafi’i, hanya Ibnu Majah yang men-takhrij hadis di atas dan terbukti lemah di mata kedua kritikus hadis di atas. Kelemahan hadis itu terletak pada rangkaian sanad yang muḍtharib, hubungan guru-murid dalam periwayatan hadis goncang, dalam arti bukan jalur linier hubungan antara guru-murid. Contoh, yang mestinya bukan guru bagi seorang murid dipasangkan dalam hadisnya sebagai guru dalam periwayatan hadis.

Jawam’ul Kalim, hadis digital, yang memuat 1400 kitab hadis tidak mencantumkan hadis riwayat Ibnu Majah di atas. Semakin kuat membuktikan bahwa khutbah dalam shalat ‘idain dengan menyelipkan banyak takbir atau mengawali takbir berualng-ulang tidak ada contohnya dari Rasulullah:

عَلِّمْنَا خُطْبَةَ الْحَاجَةِ اَلْحَمْدُ للهِ نَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

Artinya:

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam telah mengajarkan Khutbah Hajat kepada kami, yaitu, Segala puji bagi Allah, kita memohon pertolongan dan ampunan kepadanya, berlindung kepadanya dari kejahatan jiwa kami dan kejelekan perbuatan-perbuatan kami. Barang siapa yang diberikan petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Barangsiapa yang telah Allah sesatkan, maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Aku bersaksi tiada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusannya (HR Nasa’i: 1387, Ibnu Majah: 1882, 1883, ditambah: amma ba’d. juga Darimi: 2105). Dalam Musnad Imam Syafi’i disebutkan  خَطَبَ يَوْمًا (khutbah di suatu hari – nomor hadis 288), selanjutnya seperti pembukaan khutbah di atas. Dalam banyak hadis berfariasi antara innal hamda (riwayat Imam Syafi’i, hadis: 456) dan al-hamdulillah (riwayat Ibnu Majah: 1883, Nasai: 1387, Ahmad: 3906).

Ketika ada seseorang membicarakan sesuatu kepada Nabi, beliau kemudian bersabda seperti teks hadis di atas (HR: 3226, Ahmad: 3105). Ketika ada orang mengatakan Ya Muhammad, sesungguhnya aku bisa mengobati kegilaan, Selanjutnya Nabi khutbah seperti teks hadis di atas (HR Ahmad: 2613). Ternyata, tidak ditemukan siapa pencetus pertama membuka khutbah idul fitri dengan takbir berulang, tetapi telah menjadi kebiasaan di kalangan madzhab syafi’iyyah, berbeda dari Rasulullah yang membuka khutbah dengan tahmid.

Maka, kalau memposisikan Rasulullah sebagai suri tauladan yang baik (uswatun hasanah) dalam urusan keagamaan, tentu mencontoh beliau dalam khutbah karena hajat seperti mau mengobati non medis, dan khutbah nikah. Jumatan, idul fitri, idul adha, dan khusufain (dua gerhana) khutbah nabi didahuli tahmid. Tentu, model tahmid setelah Innal ḩamda lillâh atau Alḩamdulillḩ , , ,  bisa bervariasi tergantung kontek materi yang akan disampaikan maupun kepiawaian khatib. Pernyataan ini bukan anti madzhab. Persoalannya, tidak ada teks agar mencontoh ulama sekaliber apapun dalam urusan ibadah maḩḍah. Ulama boleh dicontoh selagi tidak berbeda dari Rasulullah dalam keagamaan karena bidang ini di luar ranah ijtihadiyah.

Keberagamaan umat Islam yang paling sempurna pastilah Rasulullah. Tidak mungkin keberagamaan seseorang bisa melampaui kualitas keagamaan Nabi. Oleh karena itu mencontoh Nabi pasti dijamin benar. Allah memerintahkan agar semua kaum muslimin mengikuti langkah-langkah nabi seperti dijabarkan dalam: QS. An-Nisa: 59, 136, dan Ali ‘Imran: 31, sejauh tahu dan mampu. Kesimpulannya, khutbah shalat idul Fitri maupun Idul Adha tidak perlu membaca takbir berulang-ulang baik sebagai pendahuluan maupun selipan dalam kalam ba’da taḩmid.

Sumber: MAJELIS TABLIGH PWM JATENG

Daftar Isi

0Komentar

Special Ads
Special Ads
Special Ads
Formulir
Tautan berhasil disalin