Pada hari Kamis, 5 Maret 2026, ba’da sholat Subuh di Masjid Taqwa Cepu, Ust. Candra Munika, S.Pd menyampaikan tausiyah yang mengajak jamaah untuk terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, terutama di bulan suci Ramadhan yang penuh keberkahan.
Beliau mengawali dengan mengingatkan pentingnya mensyukuri nikmat iman, Islam, dan kesehatan, sehingga kita masih diberi kesempatan untuk bertemu kembali dengan bulan Ramadhan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, teladan terbaik dalam beribadah.
Dalam tausiyahnya, beliau menekankan keutamaan puasa sebagai ibadah yang sangat istimewa di sisi Allah. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits qudsi:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ، إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Maksudnya:
Puasa memiliki kedudukan yang sangat istimewa karena hanya Allah yang mengetahui keikhlasan seseorang dalam menjalankannya. Oleh karena itu, balasan puasa diberikan langsung oleh Allah dengan pahala yang tidak terbatas.
Selain itu, amal ibadah pada umumnya dilipatgandakan pahalanya oleh Allah, sebagaimana dalam hadits:
مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ
“Barang siapa yang berbuat kebaikan, maka baginya pahala sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Namun, khusus untuk puasa, Allah sendiri yang akan memberikan balasan tanpa batas.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa para ulama, seperti Imam Al Ghazali, membagi tingkatan puasa menjadi tiga:
-
Puasa Orang Awam
Yaitu puasa yang hanya menahan lapar dan haus serta menjaga dari hal-hal yang membatalkan secara lahiriah. -
Puasa Khusus
Yaitu puasa yang tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa, seperti menjaga lisan, pandangan, dan perbuatan. -
Puasa Khususul Khusus (Istimewa)
Yaitu puasa yang lebih tinggi, di mana hati juga dijaga dari segala hal yang dapat menjauhkan diri dari Allah. Fokusnya hanya pada ibadah, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Sebagai penutup, beliau mengajak seluruh jamaah untuk bermuhasabah diri, terutama karena Ramadhan telah memasuki pertengahan. Apakah puasa yang kita jalani masih sebatas menahan lapar dan haus, atau sudah meningkat menjadi puasa yang berkualitas dan penuh keikhlasan.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima seluruh amal ibadah kita, menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang bertakwa, serta mampu meraih derajat puasa yang terbaik di sisi-Nya. Aamiin.

0Komentar