TfA6BSOlBUdiTfY7BSW8TSroTA==

Headline:

Merenungi Tanda-Tanda Kekuasaan Allah untuk Menguatkan Keimanan

Kultum Ba’da Sholat Subuh Masjid Taqwa Cepu – Kamis, 12 Maret 2026 bersama Ust. Drs. H. Najamansah

Kamis pagi, 12 Maret 2026, jamaah Masjid Taqwa Cepu kembali mengikuti kultum ba’da sholat Subuh yang disampaikan oleh Ust. Drs. H. Najamansah. Dalam tausiyahnya, beliau mengajak jamaah untuk memperhatikan tanda-tanda kebesaran Allah Subhānahu wa Ta‘ālā yang terdapat di alam semesta sebagai sarana untuk memperkuat keimanan.

Merenungi Tanda-Tanda Kebesaran Allah

Ust. Najamansah menjelaskan bahwa Allah menciptakan berbagai fenomena di alam semesta sebagai bukti kekuasaan-Nya. Pergantian siang dan malam, penciptaan langit dan bumi, serta berbagai peristiwa di alam merupakan tanda-tanda kebesaran Allah yang seharusnya direnungkan oleh manusia.

Allah Subhānahu wa Ta‘ālā berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Artinya:
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal."
(QS. Āli ‘Imrān: 190)

Maksud ayat:
Ayat ini mengajarkan bahwa orang-orang yang berakal hendaknya merenungkan keindahan dan keteraturan alam sebagai bukti kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.

Ciri Orang yang Cerdas Menurut Islam

Dalam kultumnya, beliau menyampaikan bahwa orang yang benar-benar cerdas adalah orang yang mampu mengambil pelajaran dari setiap peristiwa dan perubahan yang terjadi di dunia ini. Mereka menjadikan semua itu sebagai sarana untuk semakin mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah.

Allah SWT juga menggambarkan orang-orang yang berakal sebagai mereka yang selalu mengingat Allah dalam berbagai keadaan.

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ

Artinya:
"Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring."
(QS. Āli ‘Imrān: 191)

Maksud ayat:
Orang yang beriman senantiasa mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik ketika berdiri, duduk, maupun berbaring, sehingga kehidupannya selalu dipenuhi dengan kesadaran akan kebesaran Allah.

Mendahulukan Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya

Ust. Najamansah juga mengingatkan bahwa seorang mukmin harus menempatkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya di atas segala sesuatu, termasuk harta, keluarga, maupun kenikmatan dunia.

Allah Subhānahu wa Ta‘ālā berfirman:

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا

Artinya:
"Katakanlah: Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya."
(QS. At-Taubah: 24)

Maksud ayat:
Ayat ini mengingatkan bahwa kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya harus menjadi prioritas utama dalam kehidupan seorang muslim. Jika kecintaan kepada dunia melebihi kecintaan kepada Allah, maka hal tersebut dapat menjerumuskan manusia kepada kesulitan dan kerugian di akhirat.

Penutup

Di akhir kultumnya, Ust. Drs. H. Najamansah mengajak jamaah untuk senantiasa memperkuat keimanan dengan merenungi tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta serta memperbanyak dzikir dan mengingat Allah dalam setiap keadaan.

Dengan hati yang selalu mengingat Allah, seorang muslim akan memperoleh ketenangan dalam hidup serta semakin kuat imannya dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Semoga Allah Subhānahu wa Ta‘ālā menjadikan kita termasuk orang-orang yang berakal, yang mampu mengambil pelajaran dari setiap tanda kebesaran-Nya, serta termasuk golongan hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Aamiin.

Daftar Isi

0Komentar

Special Ads
Special Ads
Special Ads
Formulir
Tautan berhasil disalin