Pada hari Senin, 2 Maret 2026, ba’da sholat Isya dan tarawih berjamaah di Masjid Taqwa Cepu, jamaah mendapatkan tausiyah yang penuh makna dari Ust. dr. Muhammad Najib, Sp.S. Dalam kultum tersebut, beliau mengingatkan bahwa hakikat puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga diri dari segala bentuk perbuatan yang dapat merusak nilai ibadah.
Beliau menyampaikan sabda Rasulullah ﷺ:
وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ، فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ
“Puasa adalah perisai. Maka, apabila salah seorang di antara kalian berpuasa, janganlah berkata kotor dan jangan berteriak-teriak. Jika ada orang yang mencacinya atau mengajaknya berkelahi, maka hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’.” (HR. Bukhari & Muslim)
Dalam penjelasannya, beliau menekankan bahwa kata “junnah” (perisai) dalam hadits tersebut menunjukkan bahwa puasa berfungsi sebagai pelindung, baik dari perbuatan dosa di dunia maupun dari siksa di akhirat. Namun, fungsi ini hanya akan dirasakan jika seseorang benar-benar menjaga kualitas puasanya.
Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi juga menahan lisan dari ucapan kotor, menjaga emosi dari amarah, serta menahan diri dari perilaku yang tidak terpuji. Banyak orang yang secara lahiriah berpuasa, namun lisannya masih menyakiti orang lain, emosinya mudah terpancing, bahkan terlibat dalam pertengkaran. Hal ini tentu mengurangi nilai pahala puasa itu sendiri.
Rasulullah ﷺ memberikan solusi yang sangat indah dan sederhana, yaitu dengan mengatakan: “Inni shaa’im” (sesungguhnya aku sedang berpuasa) ketika menghadapi konflik. Kalimat ini bukan hanya untuk disampaikan kepada orang lain, tetapi juga sebagai pengingat bagi diri sendiri agar tetap menjaga kesabaran dan menahan diri.
Lebih lanjut, beliau mengajak jamaah untuk menjadikan puasa sebagai sarana latihan pengendalian diri. Jika di bulan Ramadhan kita mampu menjaga lisan, sikap, dan emosi, maka seharusnya kebiasaan baik tersebut dapat terus berlanjut di bulan-bulan setelahnya.
Dengan demikian, puasa yang kita jalankan tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi benar-benar membentuk pribadi yang lebih sabar, santun, dan bertakwa.
Sebagai penutup, jamaah diajak untuk memperbaiki kualitas ibadah puasa dengan tidak hanya fokus pada aspek lahiriah, tetapi juga memperhatikan aspek batiniah. Semoga puasa yang kita jalankan benar-benar menjadi perisai yang melindungi kita dari dosa dan mengantarkan kita kepada derajat takwa.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar